Oregairu Volume 14 Prelude 1 Bahasa Indonesia

Minggu, 11 Agustus 2013 : Agustus 11, 2013

0 comments

Oregairu Volume 14 Prelude 1 Bahasa Indonesia

Itu hanyalah beberapa kata yang perlu Aku kirim, namun, butuh waktu agak usang untuk melakukannya.
Ketika Aku berhenti di kerumunan di depan stasiun, matahari malam yang hangat karam di bawah cakrawala laut, dan jari-jariku yang terbuka menjadi mati rasa dan cuek ketika disentuh.
Aku memegang ponselku di tangan. Jika waktu yang ditampilkan akurat, itu hanya satu jam lima belas menit semenjak Aku meninggalkan sekolah. Mataku terpaku pada layar. Tetapi Aku mendapati diriku mendesah dangkal pada setiap pelengkap menitnya.
Tak usang kemudian, lampu-lampu di jalan-jalan dan di banyak sekali toko mulai bersinar cemerlang, bersamaan dengan menghilangnya siswa yang berpakaian seragam, dan digantikan oleh semakin banyak orang yang mengenakan setelan Jas.
Aku menggerakkan jari-jariku yang kaku ke layar ponsel, dengan hati-hati memasukkan satu huruf ke huruf lainnya dalam aplikasi messenger yang tidak dikenal, dengan hati-hati mengkonfirmasi masing-masing karakter. Setelah selesai, Aku menekankan jariku pada ikon pesawat kertas dengan kekuatan yang sangat lemah yang menciptakan Aku mempertanyakan apakah Aku benar-benar menekannya atau tidak, impian pesan itu tidak pernah dikirim mengganggu pikiranku sementara itu.
 Tetapi isi pesanku segera ditampilkan, hanya kata-kata berikut yang diketik, [Bisakah kita bertemu?] Tidak ada arti untuk tiga kata. Tapi Aku yakin ia masih bisa mengerti niatku.
Aku melihat pesan yang butuh waktu usang untuk Aku kirim. Ketika Aku merenungkan apakah satu menit, atau dua menit, telah berlalu, waktu yang ditampilkan tetap statis, tidak pernah berubah.
Saat itulah Aku ingat diajari cara menarik pesan yang dikirim. Jariku bergerak sendiri, tetapi pada alhasil tidak pernah menyentuh layar. Jika Aku tidak salah, akseptor akan diberi tahu jikalau pesan ditarik kembali. Mengenal kepribadiannya, ia akan menyadarinya, kemudian menghubungiku. Bagaimanapun, hasilnya akan sama.
Sementara terjebak dalam pikira itu, layar diperbarui dengan pesan [dilihat]. Beberapa detik kemudian, sebuah tanggapan masuk. Isi pesannya hanyalah ia sedang dalam perjalanan, tidak menanyakan alasan, lokasi, atau apa pun. Tanpa sadar saya tersenyum ketika membaca pesan yang penuh dengan keceriaannya yang biasa. Aku kemudian mengirim pesan untuk memberikan lokasiku ketika ini yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, jarak yang seharusnya tidak terlalu usang untuk dituju.
Ketika Aku menunggu, Aku menutup mata, dan menajamkan telingaku pada banyak bunyi di sekitarnya: gemerisik dedaunan, lonceng keberangkatan kereta, deru mesin mobil, penjaja kafe Izakaya, BGM yang berasal dari sentra perbelanjaan, bunyi orang-orang yang lewat, dan melodi permainan penyeberangan pejalan kaki. Dan di antara kumpulan bunyi itu ialah bunyi napasku yang bergetar. Tak usang kemudian, saya bisa mendengar langkah kakinya. Awalnya ringan dan berisik menyerupai tarian polka, ia beralih ke waltz yang tenang, dan alhasil berhenti.
Sekarang, apa yang harus Aku bicarakan? Berapa banyak yang harus Aku bicarakan? Perlahan saya membuka mata, dan menatapnya ketika ia bangkit di depanku. Dia mengenakan mantel tebal dengan baju rajutan terbuka dan celana jins. Meskipun penampilannya kasar, itu sangat cocok untuk seseorang yang energik menyerupai dia. Di sisi lain, syal longgar yang melilitnya menunjukkan kelembutan seorang gadis secara sekilas. Aku benar-benar percaya ia ialah orang yang elok dan menawan.
 "Selamat malam."
Dia tersenyum membalas salamku, dan mengangguk, rambutnya yang disanggul, berkibar. Sepertinya ia telah berlari sehingga terus terengah-engah. Meskipun ia telah menanggapiku, ia tidak cukup bisa membentuk kata-kata sebab nafasnya. Dia mengipasi wajahnya dengan ringan, dan kemudian melepas syalnya.
Memandangnya, itu menciptakan Aku sadar bahwa isu terkini telah berakhir

Sumber http://rikaverrykurniawan.blogspot.com/
Share this Article
< Previous Article
Next Article >
Copyright © 2019 Xomlic - All Rights Reserved
Design by Ginastel.com