Renungan, Sopan Santun Menasehati Dalam Islam

Rabu, 22 Juli 2015 : Juli 22, 2015

0 comments

SERINGInfo - ✔️ ADAB MENASEHATI

Kisah ulama besar hebat hadits ini bisa kita jadikan contoh dalam masalah saling memberi nasehat.

Karena saling menasehati, betapapun ia ialah salah satu sendi dalam agama Islam, 
tetap memerlukan budpekerti dan tata caranya sendiri.

Sebab, seringkali, orang bukannya tidak mau mendapatkan kebenaran yang disampaikan, tetapi ia tidak mendapatkan cara kebenaran itu disampaikan.

Maka, nasehat yang baik tetap harus menjaga perasaan juga kehormatan saudara kita; alasannya ialah itu ialah hak persaudaraan kita.

Adalah Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama hebat hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad, menceritakan betapa ihsannya seorang Ahmad ibn Hanbal dalam mengkritik dan memberi nasehat.

“Suatu hari,” Harun ibn ‘Abdillah berkisah, “Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk”.
“Siapa..?”, tanyaku.
“Ahmad”, jawab orang diluar pelan.
“Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.

Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.

Maka kubuka pintu. Kupersilakan ia masuk, dan kulihat ia berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. 
Saat kupersilakan untuk duduk, ia menjaga biar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?”

“Maafkan saya ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka akupun memberanikan diri mendatangimu. 
Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”

Aku terkejut. Sejak siang..? “Apakah itu wahai guru?”

“Mmmm begini…” bunyi Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.

“Siang tadi saya lewat disamping majelismu, ketika engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari ketika mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung dibawah bayangan pepohonan. 
Lain kali, janganlah ibarat itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk..!”

Aku tercekat, tak bisa berkata…

Maka ia berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.

Masya Allah… Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya susila ia dalam memberikan nasehat.

Beliau bisa saja meluruskanku eksklusif ketika melintasi majelisku.

Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku. Beliau juga rela menunggu hingga larut malam biar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku. Bahkan ia berbicara dengan bunyi yang sangat pelan dan berjingkat ketika berjalan, biar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan contoh bagi

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ
9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Share this Article
< Previous Article
Next Article >
Copyright © 2019 Xomlic - All Rights Reserved
Design by Ginastel.com