Kunci Selamat Siti Maryam Selama Hilang Di Gunung: Pantang Menyerah

Sabtu, 18 Maret 2017 : Maret 18, 2017

0 comments

sumber: kumparan
Tersesat seorang diri di Gunung Rinjani selama 4 hari 3 malam bukanlah waktu yang sebentar. Sebab bahaya alam liar memang kerap tak sanggup diprediksi. Menurut kumparan, Kedinginan, gelap, lapar, lelah, takut dan panik, harus diatasi seorang diri. Banyak kisah orang hilang di gunung dan berakhir tanpa nyawa. Namun, Siti Maryam (29), sanggup melaluinya dengan baik.

Hanya berbekal permen dan madu, Siti yang terpisah dari rombongan dikala gres turun dari puncak Anjani (puncak Gunung Rinjani), pada Minggu (30/7), bisa bertahan hidup sampai bertemu dengan warga. Kepada kumparan Siti menceritakan pengalaman tak terlupakan yang dialaminya.

"Saya sakit perut dikala turun dari puncak. Pertama saya melihat padang rumput (yang ternyata ialah padang pasir berbatu), alasannya ada teman, saya fokus ke teman," kata Siti di kediamannya, daerah Cakung, Jakarta Timur, Minggu (6/8).

Namun tak usang kemudian, Siti kehilangan jejak temannya. Dia jadinya berjalan terus mengarah ke bawah, akan tetapi temannya tak juga ditemukan. Dia kemudian menyadari bahwa dirinya tersesat.

Saat itu medan yang ia hadapi ialah jurang yang curam dan tebing-tebing yang menjulang kokoh. Siti terus melipir mencari jalan melalui bukit-bukit di sebelahnya.

"Waktu itu saya melihat bapak-bapak mau nyamperin enggak bisa alasannya kejauhan. Yaudah jadinya saya hanya bisa di situ nurunin bukit," kata wanita yang mengaku sudah 6 kali mendaki gunung itu.

Menjelang malam, Siti yang terus berjalan tanpa perbekalan, merasa kelelahan. Saat itu ia sudah jauh meninggalkan medan berpasir dan datang di daerah dengan vegetasi rerumputan. Siti meringkuk, tidur tanpa bantalan maupun selimut. Rasa hirau taacuh yang menusuk tulang, dilawannya sekuat tenaga. Siti tak mau mati konyol. Dia masih ingin hidup dan selamat.

Dalam suasana gelap, dingin, dan sepi itu, Siti mengaku melihat sekelompok sosok hitam yang memperbincangkan dirinya. Meski ketakutan, ia berusaha menenangkan diri dan tak mengganggu mereka.
Pagi harinya ia bergerak lagi, masih seorang diri tanpa bertemu pendaki lain ataupun penduduk setempat. Siti masih kehilangan arah.

"Saya resah kan, terus waktu saya lihat sungai kering, saya ikuti terus," katanya.

Yang ada dalam pikiran Siti dikala itu hanyalah pulang dengan selamat. Oleh alasannya itu, ia terus bergerak mencari jalan keluar dan berusaha mencari pertolongan. Siti pantang menyerah.

"Kalau saya membisu mereka enggak akan temui saya. Saya teriak mereka enggak ada yang dengar. Pokoknya gimana caranya cari jalan semoga bisa selametin diri sendiri aja," tutur wanita yang sudah bergabung dengan komunitas Backpacker Jakarta semenjak setahun yang kemudian itu.

Dia sempat mencari mata air, alasannya ia meyakini, mata air itu tak jauh dari camp pendaki. Namun Siti gagal menemukannya. Oleh alasannya itu ia menelusuri sungai kering yang mengarah ke bawah. Medan yang dilaluinya memang tak mudah, namun ia terus bergerak.

"Terus saya lihat ada penggembala sapi, ya sudah saya panggil dia. Dia nengok, saya naik dan saya minta tolong ia minta anterin ke basecamp," katanya.

Puji syukur tak henti ia panjatkan dikala jadinya bertemu warga. Dia dibawa ke basecamp di Sembalun dan segera dilarikan ke Puskesmas untuk diperiksa kondisinya. Di puskesmas itulah ia kemudian bertemu kembali dengan teman-temannya.

Kini wanita yang bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta itu sudah berada di rumahnya. Keselamatan Siti tak hanya disyukuri olehnya, namun juga keluarga, kerabat, teman-teman, dan tim SAR yang sudah berkerja keras mencarinya. Oleh alasannya itu, hari ini orang tuanya menggelar syukuran atas keselamatan anak sulung mereka tersebut.

Sumber : Kumparan.com
Share this Article
< Previous Article
Next Article >
Copyright © 2019 Xomlic - All Rights Reserved
Design by Ginastel.com